UJI KETAHANAN VARIETAS PADITERHADAP PENYAKIT
HAWAR DAUN BAKTERI
1. PENDAHULUAN
Tanaman padi sawah (Oryza sativa L) merupakan
salah satu komoditi tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia dan salah
satu bahan pangan nasional yang diupayakan ketersediaannya tercukupi sepanjang
tahun, karena padi sebagai makanan pokok utama. Kebutuhan beras secara nasional
terus meningkat sepanjang tahun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.
Namun pada realisasinya kebutuhan pangan Indonesia masih tergantung oleh negara
lain, kecuali pada tahun 1984 yang mampu berswasembada beras.
Penyakit
hawar dan bakteri atau Bacterial Leaf Blight (BLB) pertama kali ditemukan di
Fukuoka Jepang pada tahun 1884 (EPPO, 2007). Penyakit ini disebabkan oleh
bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Bakteri Xanthomonas.
Oryzae merupakan bakteri gram negatif, aerobic, berbentuk batang
dengan ukuran (0,4-0,7 x 0.7 –1.8 um ) dengan flagel polar tunggal
(Schaad, et al, 2001). Koloni pada media padat mengandung glukosa berbentuk
bulat, cembung, berlendir dan berwarna kuning karena memproduksi pigmen
xanthomonadin,karakteristik dari genus (Bradury, 1986).
Penyakit
hawar daun bakteri (bacterial leaf blight = BLB) disebabkan olehbakteri
Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit ini di Indonesia tersebar
hampirdiseluruh daerah pertanaman padi baik di dataran rendah maupun dataran
tinggidan selalu timbul baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Pada
musimhujan biasanya berkembang lebih baik. Penyakit hawar daun
bakterimenyebabkan penurunan produksi padi yang cukup tinggi dan dalam
keadaantertentu dapat menurunkan produksi sampai 60 %. Penyakit ini mempunyaibeberapa
ras dari jenis bakteri dan masing-masing mempunyai perbedaankemampuan untuk
menginfeksi tanaman padi (Sudarmo 1991).
Hawar
daun bakteri dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dantanaman tua.
Penyakit hawar daun bakteri mulai menyebabkan kerusakan padapertanaman padi di
Indonesia pada musim hujan tahun 1948/1949. Pada waktu itupenyakit ini disebut
sebagai kresek atau hama lodoh apabila tanaman sampai mati.Di daerah tropis,
misalnya Indonesia kerusakan pertanaman padi lebih besardibandingkan daerah
subtropis (Khaeruni 2001). Pada tingkat keparahan 20%sebulan sebelum panen,
penyakit sudah mulai menurunkan hasil. Di ataskeparahan itu, hasil padi turun
4% tiap kali penyakit bertambah parah sebesar10%.Penyakit hawar daun bakteri
menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar. Kresek adalah gejala yang
terjadi pada tanaman berumur kurang dari30 hari (pesemaian atau yang baru
dipindah). Daun-daun berwarna hijau kelabu,melipat, dan menggulung. Dalam
keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu,dan mati, mirip tanaman yang
terserang penggerek batang atau terkena air panas(lodoh). Sementara, hawar
merupakan gejala yang paling umum dijumpai padapertanaman yang telah mencapai
fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan(Suyamto 2007). Penyakit ini akan menimbulkan
gejala yang timbul 1-2 minggusetelah padi dipindah dari persemaian. Daun-daun
yang sakit akan berwarna hijaukelabu, mengering, helaian daunnya melengkung,
diikuti oleh melipatnya helaiandaun itu sepanjang ibu tulangnya. Pada umumnya
gejala yang pertama tampak pada daun-daun yang dipotong ujungnya. Dekat bekas
potongan terjadi bercak hijau kelabu, sering ibu tulang daun menjadi berwarna
kuning.
Bakteri
ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi di daerah beriklim tropis
maupun subtropis (Ou,1985). Di Indonesia, Kehilangan hasil yang diakibatkan
oleh penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 70-80%(Kadir, 1999),
sedangkan di India mencapai 6-60 % dan di Jepang
mencapai 20-50 % (IRRI, 2003).
Upaya yang dinilai
efektif untuk mengendalikan penyakit HDB adalah melalui penanaman varietas
tahan. Di Indonesia, pemuliaan varietas tahan melalui seleksi telah lama
dilakukan dan telah berhasil diperoleh beberapa varietas yang memiliki
ketahanan terhadap HDB (Herlina dan Silitonga, 2011)
Populasi bakteri hawar patogen Xanthomonas
oryzae pv. oryzae pada pertanaman padi sangat beragam dan dinamis.
Beberapa strain sering muncul di suatu wilayah tertentu dengan satu atau
beberapa strain yang dominan. Struktur populasi. Xanthomonas
oryzae pv. oryzae dapat dipengaruhi oleh perubahan
lingkungan seperti perbedaan musim dan adanya gen resisten terhadap penyakit
dalam tanaman padi (Dardic, et al; 2003). Strain Xoo di
Indonesia hingga kini telah ditemukan 12 strain dengan tingkat virulensi yang
berbeda. Strain IV dan VIII diketahui mendominasi serangan HDB pada tanaman
padi di Indonesia (Suprayono et al, 2004)
Padi
aromatik merupakan salah jenis padi yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup
tinggi karena disukai oleh konsumen. Padi aromatik banyak diminati karena selain
memiliki rasa nasi yang enak dan pulen juga memiliki aroma wangi. Adanya
tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan khususnya beras yang
semakin meningkat baik dari kualitas maupun kuantitas merupakan peluang bagi
pengembangan padi aromatik lokal, khususnya padi aromatik lokal Enrekang.
Varietas
padimerupakan salah satu jenis padi aromatik yang memiliki aroma wangi yang
tajam. Jenis Varietas padiadalah Pulu Mandoti, Pare Salle, Pare Pulu Lotong,
Pare Pinjan, Pare Pallan, Pare Solo, Pare Mansur, Pare Kamida dan Pare Lambau.
Hasil uji organoleptik terhadap sembilan varietas padi aromatik menunjukkan
bahwa Varietas padiyaitu Pulu Mandoti dan Lambau mempunyai tingkat aromatik
yang paling harum (Masniawati, dkk., 2005).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian
ini dilaksanakan mulai dari hari senin 17 November 2014, bertempat di Kebun
Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Indonesia.
Benih
padi vrietas sanapi dan varietas padi Mas yang telah berumur 21 hari di
pindahkan ke ember yang telah diisi dengan media tanah dan pupuk kandang (2:1),
satu rumpun per ember. Tanaman padi yang telah berumur 30 hari setelah tanam
diinokulasi dengan bakteri Xoo. Inokulasi isolat Xoo dilakukan dengan
cara Clip-method, yaitu ujung daun padi
dipotong kira-kira 2-3cm dengan gunting yang sudah dicelupkan dalam
suspensi Xoo. Dan metode suntikan akar, yaitu dengan menetesi akar dengan
Suspensi Xoo. Pengamatan dilakukan terhadap 5 helai daun padi pada setiap
rumpun yang telah diinokulasi dengan bakteri Xoo untuk mengetahui reaksi setiap
jenis padi terhadap penyakit hawar daun bakteri.
Perkembangan
penyakit diamati tiga kali yaitu 7 hari, 14 hari dan 21 hari setelah diinokulasi.
Parameter yang diamati adalah luas area daun sakit (Disease Leaf Area).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanaman
yang terinfeksi menunjukkan gejala bercak putih kekuningan yang diawali pada
bekas guntingan pada ujung daun. Selanjutnya menyebar keseluruh permukaan daun
sesuai dengan tingkat ketahanan tanaman padi terhadap bakteri Xoo yang
diinfeksikan. Penyakit hawar daun bakteri merupakan penyakit yang menginfeksi
secara sistemik dengan gejala berupa bercak berwarna abu-abu putih
disepanjang tulang daun. Gejala ini tampak jelas pada stadia pembentukan
anakan, dimana kejadian penyakit meningkat seiring dengan pertumbuhan tanaman
dan memuncak pada stadia pembungaan. (Gnamickan et al, (1999).
Tabel 1. Respon Tanaman Varietas
padi terhadap Isolat Bakter Xoo-003
A. Clipping
methode
|
No
|
Jenis
Padi
|
7hari
setelah inokulasi
|
14
hari setelah inokulasi
|
||||||||||||||||
|
Luas
gejala pd daun(%)
|
Skor
|
Kategori
|
Luas
gejala pd daun(%)
|
Skor
|
kategori
|
||||||||||||||
|
1
|
Padi
Mas
|
|
7
7
5
9
7
5
|
Agak
rentan
Agak
rentan
Sedang
Sangat
rentan
Agak
rentan
Sedang
|
|
9
9
7
9
9
7
|
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Agak
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Agak
rentan
|
||||||||||||
|
2
|
Padi Senapi
|
|
9
7
7
9
9
7
|
Sangat
rentan
Agak
rentan
Agak
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Agak
rentan
|
|
9
9
9
9
9
9
|
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
|
||||||||||||
|
No
|
Jenis
Padi
|
7
hari setelah inokulasi
|
14
hari setelah inokulasi
|
||
|
Panjang
Daun
(cm)
|
Panjang
gejala pd daun (cm)
|
Panjang
Daun
(cm)
|
Panjang
gejala pd daun (cm)
|
||
|
1
Padi
Mas
|
1
|
40
40
35
|
19
13
4
|
|
33
26
7
|
|
2
|
44
41
38
|
16
10
6
|
|
35
29
9
|
|
|
senapi
|
1
|
28
19
21
|
13
8
11
|
|
24
17
15
|
|
2
|
22
26
19
|
13
13
3
|
|
17
22
15
|
|
B. Metode
Akar
|
No
|
Jenis Padi
|
7hari setelah inokulasi
|
14 hari setelah inokulasi
|
||||||||||||||||||||||||||||||
|
Luas gejala pd daun(%)
|
Skor
|
Kategori
|
Luas gejala pd daun(%)
|
Skor
|
kategori
|
||||||||||||||||||||||||||||
|
1
2
|
Padi Mas
Padi
Senapi
|
|
7
5
5
9
7
5
9
7
7
9
9
7
|
Agak rentan
Sedang
Sedang
Sangat rentan
Agak rentan
Sedang
Sangat rentan
Agak rentan
Agak rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Agak rentan
|
|
9
9
7
9
9
7
9
9
9
9
9
9
|
Sangat rentan
Sangat rentan
Agak rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Agak rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
|
||||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||
|
No
|
Jenis
Padi
|
7
hari setelah inokulasi
|
14
hari setelah inokulasi
|
||
|
Panjang
Daun
(cm)
|
Panjang
gejala pd daun (cm)
|
Panjang
Daun
(cm)
|
Panjang
gejala pd daun (cm)
|
||
|
1
Padi
Mas
|
1
|
38
36
29
|
18
10
5
|
38
36
29
|
30
26
9
|
|
2
|
39
37
27
|
22
12
5
|
39
37
27
|
33
31
13
|
|
|
senapi
|
1
|
24
22
16
|
15
10
8
|
24
22
16
|
24
17
10
|
|
2
|
22
22
16
|
14
12
7
|
22
22
16
|
22
19
12
|
|
Hasil pengamatan terhadap gejala serangan
penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi setelah diinokulasi dengan
isolate Bakteri Xoo-003 menunjukkan gejala yang bervariasi. Pada umur
7 hari setelah inokulasi, ada dua jenis padi, yaitu Padi Mas, dan Senapi,
menunjukkan adanya perbedaan gejala yang mana tanaman padi mas menunjukkan
kategori Agak rentan ,Agak rentan, Sedang ,Sangat rentan ,Agak
rentan dan Sedang ini menunjukkan bahwa tnaman padi mas masih mampu bertahan
dalam praktek uji coba tersebut begitu pula yang terjadi pada varietas padi Senapi yag
menunjukkan kategori Sangat rentan ,Agak rentan ,Agak rentan
,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan ini membuktikan bahwa varietas padi
Senapi ini masih sanggup bertahan dalam praktek uji coba ini (Tabel 1).
Dan pada hari ke 14 kedua jenis padi ini
menunjukkan gejala sangat rentan terhadap Bakteri Xoo bahwa hanya 2 rumpun padi
yang masuk dalam kategori agak rentan yang mana luas area 31.03448
dan 48.14815 (Tabel
1) ini menunjukkan bahwa masih ada sebagian dari jenis padi Mas yang bertahan
dalam percobaan ini namun berbeda dengan varietas Senapi yag mana setiap rumpun
tanaman perobaan masuk dalam kategori sangat rentan hal ini menunjukkan bahwa
varietas padi Senapi tidak tahan dengan metode percobaan dengan perlakuan
bakteri Xoo ini (Tabel 1).
Praktikum kali ini juga mengamati Metode Akar
yang mana tiap varietas menunjukkan gejala yang sedikit berbeda seperti yang
akan di uraikan sebagai berikut :
Pada
hari ke 7 padi verietas Mas menujukkan kategori gejala Agak
renta ,Sedang ,Sedang ,Sangat rentan ,Agak rentan ,Sedang yang mana gejala ini
memberi arti bahwa padi varietas Mas tersebut masih bias bertahan dalam praktek
percobaan dengan menggunakan bakteri Xoo namun berbeda hal nya pada hari e 14
padi varietas Mas ini memberikan gejala yang berbeda sebangai berikut : Sangat
rentan, Sangat rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan
yang mana ini berate bahwa padi varietas Mas ini tidak mampu bertahan hidup
pada hari ke 14 karna gejala yang di timbulkan rata rata sangat rentan atau
tidak mamapu bertahan dari bakteri Xoo tersebut
Namun
berbeda dengan varietas Senapi pada hari ke 7 menunjukkan gejala sebagai
berikut : Sangat rentan, Agak rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan
,Agak rentan hal ini menunjukka bahwa padi varietas Senai ini termasuk tidak
tahan dalam percobaan denganmenggunakan bakteri Xoo dan pada hari ke 14 padi
varietas padi Senapi memberikan kategori gejala sebagai berikut : Sangat rentan
,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan yang
mana gejala ini menunjukkan bahwa varietas ini tidak mamapu bertahan dengan
bakteri Xoo tersebut karna gejala yang di timbulkan semua nya sangat rentan dan
sangat tidak mungkin bertahan hidup kalaupun bertahan akan memberikan hasil
produksi yang tidak maksimum.
Tabel 2. Pengelompokan Padi Berdasarkan Skoring ketahanan Terhadap
Isolat Xoo-003 pada umur 1 minggu setelah inokulasi
|
SKOR
|
KATEGORI
|
JENIS
PADI
|
|
|
|
|
|
0
|
Sangat
Tahan
|
|
|
1
|
Tahan
|
|
|
3
|
Agak
Tahan
|
-Padi
Mas
|
|
5
|
Sedang
|
|
|
7
|
Agak
Rentan
|
|
|
9
|
Sangat
Rentan
|
-
|
Tabel 3. Pengelompokan Padi Berdasarkan Skoring ketahanan Terhadap
Isolat Xoo-003 pada umur 2 minggu setelah inokulasi
|
SKOR
|
KATEGORI
|
JENIS
PADI
|
|
|
|
|
|
0
|
Sangat
Tahan
|
-
|
|
1
|
Tahan
|
-
|
|
3
|
Agak
Tahan
|
-
Padi
Mas
|
|
5
|
Sedang
|
-
|
|
7
|
Agak
Rentan
|
|
|
|
|
|
|
9
|
|
|
|
|
Sangat
Rentan
|
|
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari praktikum kali
ini dapat disimpuln bahwa :
1. Dalam
Clipping methode varietas padi Mas pada hari percobaa ke
7 rata rata menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 padi percobaan
menunjukkan gejala sangat rentan dan ini tidak mungki untuk hidup normal dan
akan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi nanti nya
Varietas padi Senapi pada hari ke 7
menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 menunjukka gejala sangat
rentan dan ini sama hal nya dengan varietas padi mas yang sama sama tidak bisa
di pertahankan.
2. Dalam
metode akar pada hari ke 7 tanaman padi Mas menunjukkan gejala agak rentan dan
pada hari ke 14 tanaman menunjukkan gejala sangat rentan
Varieas padi Senapi pada hari ke 7
tanaman menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 tanaman menujukkan
gejala sangat rentan
DAFTAR PUSTAKA
Bradury,
J.F. (1986). Xanthomonas. In: Guide to Plant Pathogenic
Bacteria. CAB International Mycological Institute, Slough, England.
Dardick, C., da Silva,
F. G., Shen, Y., and Ronald, P. (2003). Antagonistic Interactions Between
Strains of
Xanthomonas oryzae pv. oryzae.
Phytopathology 93:705-711EPPO. (2007). Xanthomonas oryzae. Bulettin
OEOBulettin 37, 543-553
Herlina
L dan Silitonga, (2011). Seleksi Lapang Ketahanan Beberapa Varietas Padi
terhadap Infeksi Hawar Daun Bakteri Strain IV dan VIII. Buletin Plasma
Nutfah Vol.17 No.2
IRRI. (2003). Bacterial leaf blight.
(Online). http://www.knowledgebank. irri.org/riceDoctor _MX/fact
sheets/diseases/ Bacterial_leaf_blight.htm
Masniawati
A, Satrianti A Syaiful, Hajrial Aswidinnoor. (2005). Karakterisasi Molekuler
dan Analisis Statbilitas Sifat Aromatik Plasma Nutfa Padi Aromatik
Sulawesi Selatan. Laporan Hibah Pekeri, Dikti, Depdiknas.
Kadir, T. S, I. Hanarida, D.W. Utami, S.
Koerniati, A.D. Ambarwati, A. Apriana, dan A. Sisharmini. (2009). Evaluasi
Ketahanan Populasi Haploid Ganda Silangan IR64 dan Oryzarufipogon Terhadap
Hawar daun bakteri pada Stadia Bibit. 15 (1). Buletin Plasma Nutfah.
Ou S.H. (1985). Rice Disease 2nd. Commonwealth
Mycological Institute. Kiew, Surrey, England. Semangun, H.
(1993). Penyakit-penyakit penting tanaman pangan. Gadjah Mada
University Press.
Schaad, N.W and Jones J.B. and Chun W.
(2001). Laboratory Guide for Identification of Plant Pathogenic Bacteia.
(3th Ed.). APPS Press. The American Phytopathological Society . St. Paul.
Minnesota.
Suparyono,
Sudir, dan Suprihanto. (2004). Pathotype profile of Xanthomoas
campestris pv.oryzae,isolates from the rice ecosystem in Java. Indonesian
Jurnal of agricultural Science, Vol. 5(2): 63-69.
Wahyudi,
A.T., Meliah dan A.A. Nawangsih. (2011). Xanthomonas oryzae pv. oryzae Bakteri
Penyebab Hawar Daun pada Padi: Isolasi, Karakterisasi, dan Telaah Mutagenesis
dengan Transposon. Makara Sains 5 no 1;89-96.
UJI KETAHANAN VARIETAS PADITERHADAP PENYAKIT
HAWAR DAUN BAKTERI
1. PENDAHULUAN
Tanaman padi sawah (Oryza sativa L) merupakan
salah satu komoditi tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia dan salah
satu bahan pangan nasional yang diupayakan ketersediaannya tercukupi sepanjang
tahun, karena padi sebagai makanan pokok utama. Kebutuhan beras secara nasional
terus meningkat sepanjang tahun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk.
Namun pada realisasinya kebutuhan pangan Indonesia masih tergantung oleh negara
lain, kecuali pada tahun 1984 yang mampu berswasembada beras.
Penyakit
hawar dan bakteri atau Bacterial Leaf Blight (BLB) pertama kali ditemukan di
Fukuoka Jepang pada tahun 1884 (EPPO, 2007). Penyakit ini disebabkan oleh
bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Bakteri Xanthomonas.
Oryzae merupakan bakteri gram negatif, aerobic, berbentuk batang
dengan ukuran (0,4-0,7 x 0.7 –1.8 um ) dengan flagel polar tunggal
(Schaad, et al, 2001). Koloni pada media padat mengandung glukosa berbentuk
bulat, cembung, berlendir dan berwarna kuning karena memproduksi pigmen
xanthomonadin,karakteristik dari genus (Bradury, 1986).
Penyakit
hawar daun bakteri (bacterial leaf blight = BLB) disebabkan olehbakteri
Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit ini di Indonesia tersebar
hampirdiseluruh daerah pertanaman padi baik di dataran rendah maupun dataran
tinggidan selalu timbul baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Pada
musimhujan biasanya berkembang lebih baik. Penyakit hawar daun
bakterimenyebabkan penurunan produksi padi yang cukup tinggi dan dalam
keadaantertentu dapat menurunkan produksi sampai 60 %. Penyakit ini mempunyaibeberapa
ras dari jenis bakteri dan masing-masing mempunyai perbedaankemampuan untuk
menginfeksi tanaman padi (Sudarmo 1991).
Hawar
daun bakteri dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dantanaman tua.
Penyakit hawar daun bakteri mulai menyebabkan kerusakan padapertanaman padi di
Indonesia pada musim hujan tahun 1948/1949. Pada waktu itupenyakit ini disebut
sebagai kresek atau hama lodoh apabila tanaman sampai mati.Di daerah tropis,
misalnya Indonesia kerusakan pertanaman padi lebih besardibandingkan daerah
subtropis (Khaeruni 2001). Pada tingkat keparahan 20%sebulan sebelum panen,
penyakit sudah mulai menurunkan hasil. Di ataskeparahan itu, hasil padi turun
4% tiap kali penyakit bertambah parah sebesar10%.Penyakit hawar daun bakteri
menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar. Kresek adalah gejala yang
terjadi pada tanaman berumur kurang dari30 hari (pesemaian atau yang baru
dipindah). Daun-daun berwarna hijau kelabu,melipat, dan menggulung. Dalam
keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu,dan mati, mirip tanaman yang
terserang penggerek batang atau terkena air panas(lodoh). Sementara, hawar
merupakan gejala yang paling umum dijumpai padapertanaman yang telah mencapai
fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan(Suyamto 2007). Penyakit ini akan menimbulkan
gejala yang timbul 1-2 minggusetelah padi dipindah dari persemaian. Daun-daun
yang sakit akan berwarna hijaukelabu, mengering, helaian daunnya melengkung,
diikuti oleh melipatnya helaiandaun itu sepanjang ibu tulangnya. Pada umumnya
gejala yang pertama tampak pada daun-daun yang dipotong ujungnya. Dekat bekas
potongan terjadi bercak hijau kelabu, sering ibu tulang daun menjadi berwarna
kuning.
Bakteri
ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi di daerah beriklim tropis
maupun subtropis (Ou,1985). Di Indonesia, Kehilangan hasil yang diakibatkan
oleh penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 70-80%(Kadir, 1999),
sedangkan di India mencapai 6-60 % dan di Jepang
mencapai 20-50 % (IRRI, 2003).
Upaya yang dinilai
efektif untuk mengendalikan penyakit HDB adalah melalui penanaman varietas
tahan. Di Indonesia, pemuliaan varietas tahan melalui seleksi telah lama
dilakukan dan telah berhasil diperoleh beberapa varietas yang memiliki
ketahanan terhadap HDB (Herlina dan Silitonga, 2011)
Populasi bakteri hawar patogen Xanthomonas
oryzae pv. oryzae pada pertanaman padi sangat beragam dan dinamis.
Beberapa strain sering muncul di suatu wilayah tertentu dengan satu atau
beberapa strain yang dominan. Struktur populasi. Xanthomonas
oryzae pv. oryzae dapat dipengaruhi oleh perubahan
lingkungan seperti perbedaan musim dan adanya gen resisten terhadap penyakit
dalam tanaman padi (Dardic, et al; 2003). Strain Xoo di
Indonesia hingga kini telah ditemukan 12 strain dengan tingkat virulensi yang
berbeda. Strain IV dan VIII diketahui mendominasi serangan HDB pada tanaman
padi di Indonesia (Suprayono et al, 2004)
Padi
aromatik merupakan salah jenis padi yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup
tinggi karena disukai oleh konsumen. Padi aromatik banyak diminati karena selain
memiliki rasa nasi yang enak dan pulen juga memiliki aroma wangi. Adanya
tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan khususnya beras yang
semakin meningkat baik dari kualitas maupun kuantitas merupakan peluang bagi
pengembangan padi aromatik lokal, khususnya padi aromatik lokal Enrekang.
Varietas
padimerupakan salah satu jenis padi aromatik yang memiliki aroma wangi yang
tajam. Jenis Varietas padiadalah Pulu Mandoti, Pare Salle, Pare Pulu Lotong,
Pare Pinjan, Pare Pallan, Pare Solo, Pare Mansur, Pare Kamida dan Pare Lambau.
Hasil uji organoleptik terhadap sembilan varietas padi aromatik menunjukkan
bahwa Varietas padiyaitu Pulu Mandoti dan Lambau mempunyai tingkat aromatik
yang paling harum (Masniawati, dkk., 2005).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian
ini dilaksanakan mulai dari hari senin 17 November 2014, bertempat di Kebun
Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Indonesia.
Benih
padi vrietas sanapi dan varietas padi Mas yang telah berumur 21 hari di
pindahkan ke ember yang telah diisi dengan media tanah dan pupuk kandang (2:1),
satu rumpun per ember. Tanaman padi yang telah berumur 30 hari setelah tanam
diinokulasi dengan bakteri Xoo. Inokulasi isolat Xoo dilakukan dengan
cara Clip-method, yaitu ujung daun padi
dipotong kira-kira 2-3cm dengan gunting yang sudah dicelupkan dalam
suspensi Xoo. Dan metode suntikan akar, yaitu dengan menetesi akar dengan
Suspensi Xoo. Pengamatan dilakukan terhadap 5 helai daun padi pada setiap
rumpun yang telah diinokulasi dengan bakteri Xoo untuk mengetahui reaksi setiap
jenis padi terhadap penyakit hawar daun bakteri.
Perkembangan
penyakit diamati tiga kali yaitu 7 hari, 14 hari dan 21 hari setelah diinokulasi.
Parameter yang diamati adalah luas area daun sakit (Disease Leaf Area).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanaman
yang terinfeksi menunjukkan gejala bercak putih kekuningan yang diawali pada
bekas guntingan pada ujung daun. Selanjutnya menyebar keseluruh permukaan daun
sesuai dengan tingkat ketahanan tanaman padi terhadap bakteri Xoo yang
diinfeksikan. Penyakit hawar daun bakteri merupakan penyakit yang menginfeksi
secara sistemik dengan gejala berupa bercak berwarna abu-abu putih
disepanjang tulang daun. Gejala ini tampak jelas pada stadia pembentukan
anakan, dimana kejadian penyakit meningkat seiring dengan pertumbuhan tanaman
dan memuncak pada stadia pembungaan. (Gnamickan et al, (1999).
Tabel 1. Respon Tanaman Varietas
padi terhadap Isolat Bakter Xoo-003
A. Clipping
methode
|
No
|
Jenis
Padi
|
7hari
setelah inokulasi
|
14
hari setelah inokulasi
|
||||||||||||||||
|
Luas
gejala pd daun(%)
|
Skor
|
Kategori
|
Luas
gejala pd daun(%)
|
Skor
|
kategori
|
||||||||||||||
|
1
|
Padi
Mas
|
|
7
7
5
9
7
5
|
Agak
rentan
Agak
rentan
Sedang
Sangat
rentan
Agak
rentan
Sedang
|
|
9
9
7
9
9
7
|
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Agak
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Agak
rentan
|
||||||||||||
|
2
|
Padi Senapi
|
|
9
7
7
9
9
7
|
Sangat
rentan
Agak
rentan
Agak
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Agak
rentan
|
|
9
9
9
9
9
9
|
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
Sangat
rentan
|
||||||||||||
|
No
|
Jenis
Padi
|
7
hari setelah inokulasi
|
14
hari setelah inokulasi
|
||
|
Panjang
Daun
(cm)
|
Panjang
gejala pd daun (cm)
|
Panjang
Daun
(cm)
|
Panjang
gejala pd daun (cm)
|
||
|
1
Padi
Mas
|
1
|
40
40
35
|
19
13
4
|
|
33
26
7
|
|
2
|
44
41
38
|
16
10
6
|
|
35
29
9
|
|
|
senapi
|
1
|
28
19
21
|
13
8
11
|
|
24
17
15
|
|
2
|
22
26
19
|
13
13
3
|
|
17
22
15
|
|
B. Metode
Akar
|
No
|
Jenis Padi
|
7hari setelah inokulasi
|
14 hari setelah inokulasi
|
||||||||||||||||||||||||||||||
|
Luas gejala pd daun(%)
|
Skor
|
Kategori
|
Luas gejala pd daun(%)
|
Skor
|
kategori
|
||||||||||||||||||||||||||||
|
1
2
|
Padi Mas
Padi
Senapi
|
|
7
5
5
9
7
5
9
7
7
9
9
7
|
Agak rentan
Sedang
Sedang
Sangat rentan
Agak rentan
Sedang
Sangat rentan
Agak rentan
Agak rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Agak rentan
|
|
9
9
7
9
9
7
9
9
9
9
9
9
|
Sangat rentan
Sangat rentan
Agak rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Agak rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
Sangat rentan
|
||||||||||||||||||||||||||
|
|
|||||||||||||||||||||||||||||||||
|
No
|
Jenis
Padi
|
7
hari setelah inokulasi
|
14
hari setelah inokulasi
|
||
|
Panjang
Daun
(cm)
|
Panjang
gejala pd daun (cm)
|
Panjang
Daun
(cm)
|
Panjang
gejala pd daun (cm)
|
||
|
1
Padi
Mas
|
1
|
38
36
29
|
18
10
5
|
38
36
29
|
30
26
9
|
|
2
|
39
37
27
|
22
12
5
|
39
37
27
|
33
31
13
|
|
|
senapi
|
1
|
24
22
16
|
15
10
8
|
24
22
16
|
24
17
10
|
|
2
|
22
22
16
|
14
12
7
|
22
22
16
|
22
19
12
|
|
Hasil pengamatan terhadap gejala serangan
penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi setelah diinokulasi dengan
isolate Bakteri Xoo-003 menunjukkan gejala yang bervariasi. Pada umur
7 hari setelah inokulasi, ada dua jenis padi, yaitu Padi Mas, dan Senapi,
menunjukkan adanya perbedaan gejala yang mana tanaman padi mas menunjukkan
kategori Agak rentan ,Agak rentan, Sedang ,Sangat rentan ,Agak
rentan dan Sedang ini menunjukkan bahwa tnaman padi mas masih mampu bertahan
dalam praktek uji coba tersebut begitu pula yang terjadi pada varietas padi Senapi yag
menunjukkan kategori Sangat rentan ,Agak rentan ,Agak rentan
,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan ini membuktikan bahwa varietas padi
Senapi ini masih sanggup bertahan dalam praktek uji coba ini (Tabel 1).
Dan pada hari ke 14 kedua jenis padi ini
menunjukkan gejala sangat rentan terhadap Bakteri Xoo bahwa hanya 2 rumpun padi
yang masuk dalam kategori agak rentan yang mana luas area 31.03448
dan 48.14815 (Tabel
1) ini menunjukkan bahwa masih ada sebagian dari jenis padi Mas yang bertahan
dalam percobaan ini namun berbeda dengan varietas Senapi yag mana setiap rumpun
tanaman perobaan masuk dalam kategori sangat rentan hal ini menunjukkan bahwa
varietas padi Senapi tidak tahan dengan metode percobaan dengan perlakuan
bakteri Xoo ini (Tabel 1).
Praktikum kali ini juga mengamati Metode Akar
yang mana tiap varietas menunjukkan gejala yang sedikit berbeda seperti yang
akan di uraikan sebagai berikut :
Pada
hari ke 7 padi verietas Mas menujukkan kategori gejala Agak
renta ,Sedang ,Sedang ,Sangat rentan ,Agak rentan ,Sedang yang mana gejala ini
memberi arti bahwa padi varietas Mas tersebut masih bias bertahan dalam praktek
percobaan dengan menggunakan bakteri Xoo namun berbeda hal nya pada hari e 14
padi varietas Mas ini memberikan gejala yang berbeda sebangai berikut : Sangat
rentan, Sangat rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan
yang mana ini berate bahwa padi varietas Mas ini tidak mampu bertahan hidup
pada hari ke 14 karna gejala yang di timbulkan rata rata sangat rentan atau
tidak mamapu bertahan dari bakteri Xoo tersebut
Namun
berbeda dengan varietas Senapi pada hari ke 7 menunjukkan gejala sebagai
berikut : Sangat rentan, Agak rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan
,Agak rentan hal ini menunjukka bahwa padi varietas Senai ini termasuk tidak
tahan dalam percobaan denganmenggunakan bakteri Xoo dan pada hari ke 14 padi
varietas padi Senapi memberikan kategori gejala sebagai berikut : Sangat rentan
,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan yang
mana gejala ini menunjukkan bahwa varietas ini tidak mamapu bertahan dengan
bakteri Xoo tersebut karna gejala yang di timbulkan semua nya sangat rentan dan
sangat tidak mungkin bertahan hidup kalaupun bertahan akan memberikan hasil
produksi yang tidak maksimum.
Tabel 2. Pengelompokan Padi Berdasarkan Skoring ketahanan Terhadap
Isolat Xoo-003 pada umur 1 minggu setelah inokulasi
|
SKOR
|
KATEGORI
|
JENIS
PADI
|
|
|
|
|
|
0
|
Sangat
Tahan
|
|
|
1
|
Tahan
|
|
|
3
|
Agak
Tahan
|
-Padi
Mas
|
|
5
|
Sedang
|
|
|
7
|
Agak
Rentan
|
|
|
9
|
Sangat
Rentan
|
-
|
Tabel 3. Pengelompokan Padi Berdasarkan Skoring ketahanan Terhadap
Isolat Xoo-003 pada umur 2 minggu setelah inokulasi
|
SKOR
|
KATEGORI
|
JENIS
PADI
|
|
|
|
|
|
0
|
Sangat
Tahan
|
-
|
|
1
|
Tahan
|
-
|
|
3
|
Agak
Tahan
|
-
Padi
Mas
|
|
5
|
Sedang
|
-
|
|
7
|
Agak
Rentan
|
|
|
|
|
|
|
9
|
|
|
|
|
Sangat
Rentan
|
|
4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari praktikum kali
ini dapat disimpuln bahwa :
1. Dalam
Clipping methode varietas padi Mas pada hari percobaa ke
7 rata rata menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 padi percobaan
menunjukkan gejala sangat rentan dan ini tidak mungki untuk hidup normal dan
akan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi nanti nya
Varietas padi Senapi pada hari ke 7
menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 menunjukka gejala sangat
rentan dan ini sama hal nya dengan varietas padi mas yang sama sama tidak bisa
di pertahankan.
2. Dalam
metode akar pada hari ke 7 tanaman padi Mas menunjukkan gejala agak rentan dan
pada hari ke 14 tanaman menunjukkan gejala sangat rentan
Varieas padi Senapi pada hari ke 7
tanaman menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 tanaman menujukkan
gejala sangat rentan
DAFTAR PUSTAKA
Bradury,
J.F. (1986). Xanthomonas. In: Guide to Plant Pathogenic
Bacteria. CAB International Mycological Institute, Slough, England.
Dardick, C., da Silva,
F. G., Shen, Y., and Ronald, P. (2003). Antagonistic Interactions Between
Strains of
Xanthomonas oryzae pv. oryzae.
Phytopathology 93:705-711EPPO. (2007). Xanthomonas oryzae. Bulettin
OEOBulettin 37, 543-553
Herlina
L dan Silitonga, (2011). Seleksi Lapang Ketahanan Beberapa Varietas Padi
terhadap Infeksi Hawar Daun Bakteri Strain IV dan VIII. Buletin Plasma
Nutfah Vol.17 No.2
IRRI. (2003). Bacterial leaf blight.
(Online). http://www.knowledgebank. irri.org/riceDoctor _MX/fact
sheets/diseases/ Bacterial_leaf_blight.htm
Masniawati
A, Satrianti A Syaiful, Hajrial Aswidinnoor. (2005). Karakterisasi Molekuler
dan Analisis Statbilitas Sifat Aromatik Plasma Nutfa Padi Aromatik
Sulawesi Selatan. Laporan Hibah Pekeri, Dikti, Depdiknas.
Kadir, T. S, I. Hanarida, D.W. Utami, S.
Koerniati, A.D. Ambarwati, A. Apriana, dan A. Sisharmini. (2009). Evaluasi
Ketahanan Populasi Haploid Ganda Silangan IR64 dan Oryzarufipogon Terhadap
Hawar daun bakteri pada Stadia Bibit. 15 (1). Buletin Plasma Nutfah.
Ou S.H. (1985). Rice Disease 2nd. Commonwealth
Mycological Institute. Kiew, Surrey, England. Semangun, H.
(1993). Penyakit-penyakit penting tanaman pangan. Gadjah Mada
University Press.
Schaad, N.W and Jones J.B. and Chun W.
(2001). Laboratory Guide for Identification of Plant Pathogenic Bacteia.
(3th Ed.). APPS Press. The American Phytopathological Society . St. Paul.
Minnesota.
Suparyono,
Sudir, dan Suprihanto. (2004). Pathotype profile of Xanthomoas
campestris pv.oryzae,isolates from the rice ecosystem in Java. Indonesian
Jurnal of agricultural Science, Vol. 5(2): 63-69.
Wahyudi,
A.T., Meliah dan A.A. Nawangsih. (2011). Xanthomonas oryzae pv. oryzae Bakteri
Penyebab Hawar Daun pada Padi: Isolasi, Karakterisasi, dan Telaah Mutagenesis
dengan Transposon. Makara Sains 5 no 1;89-96.
Komentar
Posting Komentar