Langsung ke konten utama

UJI KETAHANAN VARIETAS PADITERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI

UJI KETAHANAN VARIETAS PADITERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
1. PENDAHULUAN

Tanaman padi sawah (Oryza sativa L) merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia dan salah satu bahan pangan nasional yang diupayakan ketersediaannya tercukupi sepanjang tahun, karena padi sebagai makanan pokok utama. Kebutuhan beras secara nasional terus meningkat sepanjang tahun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Namun pada realisasinya kebutuhan pangan Indonesia masih tergantung oleh negara lain, kecuali pada tahun 1984 yang mampu berswasembada beras.
Penyakit hawar dan bakteri atau Bacterial Leaf Blight (BLB) pertama kali ditemukan di Fukuoka Jepang pada tahun 1884 (EPPO, 2007). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Bakteri Xanthomonas. Oryzae merupakan bakteri gram negatif, aerobic, berbentuk batang dengan ukuran (0,4-0,7 x 0.7 –1.8 um ) dengan flagel polar tunggal (Schaad, et al, 2001). Koloni pada media padat mengandung glukosa berbentuk bulat, cembung, berlendir dan berwarna kuning karena memproduksi pigmen xanthomonadin,karakteristik dari genus (Bradury, 1986).
Penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf blight = BLB) disebabkan olehbakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit ini di Indonesia tersebar hampirdiseluruh daerah pertanaman padi baik di dataran rendah maupun dataran tinggidan selalu timbul baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Pada musimhujan biasanya berkembang lebih baik. Penyakit hawar daun bakterimenyebabkan penurunan produksi padi yang cukup tinggi dan dalam keadaantertentu dapat menurunkan produksi sampai 60 %. Penyakit ini mempunyaibeberapa ras dari jenis bakteri dan masing-masing mempunyai perbedaankemampuan untuk menginfeksi tanaman padi (Sudarmo 1991).
Hawar daun bakteri dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dantanaman tua. Penyakit hawar daun bakteri mulai menyebabkan kerusakan padapertanaman padi di Indonesia pada musim hujan tahun 1948/1949. Pada waktu itupenyakit ini disebut sebagai kresek atau hama lodoh apabila tanaman sampai mati.Di daerah tropis, misalnya Indonesia kerusakan pertanaman padi lebih besardibandingkan daerah subtropis (Khaeruni 2001). Pada tingkat keparahan 20%sebulan sebelum panen, penyakit sudah mulai menurunkan hasil. Di ataskeparahan itu, hasil padi turun 4% tiap kali penyakit bertambah parah sebesar10%.Penyakit hawar daun bakteri menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar. Kresek adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur kurang dari30 hari (pesemaian atau yang baru dipindah). Daun-daun berwarna hijau kelabu,melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu,dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerek batang atau terkena air panas(lodoh). Sementara, hawar merupakan gejala yang paling umum dijumpai padapertanaman yang telah mencapai fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan(Suyamto 2007). Penyakit ini akan menimbulkan gejala yang timbul 1-2 minggusetelah padi dipindah dari persemaian. Daun-daun yang sakit akan berwarna hijaukelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti oleh melipatnya helaiandaun itu sepanjang ibu tulangnya. Pada umumnya gejala yang pertama tampak pada daun-daun yang dipotong ujungnya. Dekat bekas potongan terjadi bercak hijau kelabu, sering ibu tulang daun menjadi berwarna kuning.
Bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi di daerah beriklim tropis maupun subtropis (Ou,1985). Di Indonesia, Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 70-80%(Kadir, 1999), sedangkan di India mencapai 6-60 % dan di Jepang mencapai 20-50 % (IRRI, 2003).
Upaya yang dinilai efektif untuk mengendalikan penyakit HDB adalah melalui penanaman varietas tahan. Di Indonesia, pemuliaan varietas tahan melalui seleksi telah lama dilakukan dan telah berhasil diperoleh beberapa varietas yang memiliki ketahanan terhadap HDB (Herlina dan Silitonga, 2011)
Populasi bakteri hawar patogen Xanthomonas oryzae pv. oryzae pada pertanaman padi sangat beragam dan dinamis. Beberapa strain sering muncul di suatu wilayah tertentu dengan satu atau beberapa strain yang dominan. Struktur populasi. Xanthomonas oryzae pv. oryzae dapat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan seperti perbedaan musim dan adanya gen resisten terhadap penyakit dalam tanaman padi (Dardic, et al; 2003). Strain Xoo di Indonesia hingga kini telah ditemukan 12 strain dengan tingkat virulensi yang berbeda. Strain IV dan VIII diketahui mendominasi serangan HDB pada tanaman padi di Indonesia (Suprayono et al, 2004)
Padi aromatik merupakan salah jenis padi yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi karena disukai oleh konsumen. Padi aromatik banyak diminati karena selain memiliki rasa nasi yang enak dan pulen juga memiliki aroma wangi. Adanya tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan khususnya beras yang semakin meningkat baik dari kualitas maupun kuantitas merupakan peluang bagi pengembangan padi aromatik lokal, khususnya padi aromatik lokal Enrekang.
Varietas padimerupakan salah satu jenis padi aromatik yang memiliki aroma wangi yang tajam. Jenis Varietas padiadalah Pulu Mandoti, Pare Salle, Pare Pulu Lotong, Pare Pinjan, Pare Pallan, Pare Solo, Pare Mansur, Pare Kamida dan Pare Lambau. Hasil uji organoleptik terhadap sembilan varietas padi aromatik menunjukkan bahwa Varietas padiyaitu Pulu Mandoti dan Lambau mempunyai tingkat aromatik yang paling harum (Masniawati, dkk., 2005).



2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan mulai dari hari senin 17 November 2014, bertempat di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Indonesia.
Benih padi vrietas sanapi dan varietas padi Mas yang telah berumur 21 hari di pindahkan ke ember yang telah diisi dengan media tanah dan pupuk kandang (2:1), satu rumpun per ember. Tanaman padi yang telah berumur 30 hari setelah tanam diinokulasi dengan bakteri Xoo. Inokulasi isolat Xoo dilakukan dengan cara Clip-method, yaitu ujung daun padi dipotong kira-kira 2-3cm dengan gunting yang sudah dicelupkan dalam suspensi Xoo. Dan metode suntikan akar, yaitu dengan menetesi akar dengan Suspensi Xoo. Pengamatan dilakukan terhadap 5 helai daun padi pada setiap rumpun yang telah diinokulasi dengan bakteri Xoo untuk mengetahui reaksi setiap jenis padi terhadap penyakit hawar daun bakteri.
Perkembangan penyakit diamati tiga kali yaitu 7 hari, 14 hari dan 21 hari setelah diinokulasi. Parameter yang diamati adalah luas area daun sakit (Disease Leaf Area).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanaman yang terinfeksi menunjukkan gejala bercak putih kekuningan yang diawali pada bekas guntingan pada ujung daun. Selanjutnya menyebar keseluruh permukaan daun sesuai dengan tingkat ketahanan tanaman padi terhadap bakteri Xoo yang diinfeksikan. Penyakit hawar daun bakteri merupakan penyakit yang menginfeksi secara sistemik dengan gejala berupa bercak berwarna abu-abu putih disepanjang tulang daun. Gejala ini tampak jelas pada stadia pembentukan anakan, dimana kejadian penyakit meningkat seiring dengan pertumbuhan tanaman dan memuncak pada stadia pembungaan. (Gnamickan et al, (1999).





 Tabel 1. Respon Tanaman Varietas padi terhadap Isolat Bakter Xoo-003
A.    Clipping methode
No
Jenis Padi
7hari setelah inokulasi
14 hari setelah inokulasi
Luas gejala pd daun(%)
Skor
Kategori
Luas gejala pd daun(%)
Skor
kategori
1

Padi Mas

47.36842
27.77778
17.24138
56.41026
32.43243
18.51852
7

7

5

9

7

5
Agak rentan

Agak rentan

Sedang

Sangat rentan

Agak rentan

Sedang


78.94737
72.22222
31.03448
84.61538
83.78378
48.14815
9

9

7

9

9

7

Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan



2
Padi  Senapi
62.5
45.45455
50
63.63636
54.54545
43.75
9

7

7

9

9

7


Sangat rentan

Agak rentan

Agak rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan

100
77.27273
62.5
100
86.36364
75
9

9

9

9

9

9
Sangat rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Sangat rentan


No
Jenis Padi
7 hari setelah inokulasi
14 hari setelah inokulasi
Panjang Daun
(cm)
Panjang gejala pd daun (cm)
Panjang Daun
(cm)
Panjang gejala pd daun (cm)
1

Padi Mas

1
40
40
35
19
13
4

33
26
7
2
44
41
38
16
10
6

35
29
9
senapi
1
28
19
21

13
8
11


24
17
15
2
22
26
19
13
13
3

17
22
15









B.     Metode Akar
No
Jenis Padi
7hari setelah inokulasi
14 hari setelah inokulasi
Luas gejala pd daun(%)
Skor
Kategori
Luas gejala pd daun(%)
Skor
kategori
1















2
Padi Mas















Padi  Senapi
47.36842
27.77778
17.24138
56.41026
32.43243
18.51852
62.5
45.45455
50
63.63636
54.54545
43.75
7

5



5

9



7

5

9

7
7


9

9

7
Agak rentan

Sedang


Sedang


Sangat rentan



Agak rentan

Sedang

Sangat rentan

Agak rentan
Agak rentan


Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan

78.94737
72.22222
31.03448
84.61538
83.78378
48.14815
100
77.27273
62.5
100
86.36364
75
9

9

7

9

9

7
9

9
9



9

9
9






Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan
Sangat rentan

Sangat rentan
Sangat rentan



Sangat rentan

Sangat rentan
Sangat rentan






No
Jenis Padi
7 hari setelah inokulasi
14 hari setelah inokulasi
Panjang Daun
(cm)
Panjang gejala pd daun (cm)
Panjang Daun
(cm)
Panjang gejala pd daun (cm)
1

Padi Mas

1
38
36
29
18
10
5
38
36
29
30
26
9
2
39
37
27
22
12
5
39
37
27
33
31
13
senapi
1
24
22
16

15
10
8

24
22
16

24
17
10
2
22
22
16
14
12
7
22
22
16
22
19
12


Hasil pengamatan terhadap gejala serangan penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi setelah diinokulasi dengan isolate Bakteri Xoo-003 menunjukkan gejala yang bervariasi. Pada umur 7 hari setelah inokulasi, ada dua jenis padi, yaitu Padi Mas, dan Senapi, menunjukkan adanya perbedaan gejala yang mana tanaman padi mas menunjukkan kategori Agak rentan ,Agak rentan, Sedang ,Sangat rentan ,Agak rentan dan Sedang ini menunjukkan bahwa tnaman padi mas masih mampu bertahan dalam praktek uji coba tersebut begitu pula yang terjadi pada varietas padi Senapi yag menunjukkan kategori Sangat rentan ,Agak rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan ini membuktikan bahwa varietas padi Senapi ini masih sanggup bertahan dalam praktek uji coba ini (Tabel 1).
Dan pada hari ke 14 kedua jenis padi ini menunjukkan gejala sangat rentan terhadap Bakteri Xoo bahwa hanya 2 rumpun padi yang masuk dalam kategori agak rentan yang mana luas area 31.03448 dan 48.14815 (Tabel 1) ini menunjukkan bahwa masih ada sebagian dari jenis padi Mas yang bertahan dalam percobaan ini namun berbeda dengan varietas Senapi yag mana setiap rumpun tanaman perobaan masuk dalam kategori sangat rentan hal ini menunjukkan bahwa varietas padi Senapi tidak tahan dengan metode percobaan dengan perlakuan bakteri Xoo ini (Tabel 1).
Praktikum kali ini juga mengamati Metode Akar yang mana tiap varietas menunjukkan gejala yang sedikit berbeda seperti yang akan di uraikan sebagai berikut :
Pada hari ke 7 padi verietas Mas menujukkan kategori gejala Agak renta ,Sedang ,Sedang ,Sangat rentan ,Agak rentan ,Sedang yang mana gejala ini memberi arti bahwa padi varietas Mas tersebut masih bias bertahan dalam praktek percobaan dengan menggunakan bakteri Xoo namun berbeda hal nya pada hari e 14 padi varietas Mas ini memberikan gejala yang berbeda sebangai berikut : Sangat rentan, Sangat rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan yang mana ini berate bahwa padi varietas Mas ini tidak mampu bertahan hidup pada hari ke 14 karna gejala yang di timbulkan rata rata sangat rentan atau tidak mamapu bertahan dari bakteri Xoo tersebut
            Namun berbeda dengan varietas Senapi pada hari ke 7 menunjukkan gejala sebagai berikut : Sangat rentan, Agak rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan hal ini menunjukka bahwa padi varietas Senai ini termasuk tidak tahan dalam percobaan denganmenggunakan bakteri Xoo dan pada hari ke 14 padi varietas padi Senapi memberikan kategori gejala sebagai berikut : Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan yang mana gejala ini menunjukkan bahwa varietas ini tidak mamapu bertahan dengan bakteri Xoo tersebut karna gejala yang di timbulkan semua nya sangat rentan dan sangat tidak mungkin bertahan hidup kalaupun bertahan akan memberikan hasil produksi yang tidak maksimum.
Tabel 2. Pengelompokan Padi Berdasarkan Skoring ketahanan Terhadap Isolat Xoo-003 pada umur 1 minggu setelah inokulasi
SKOR
KATEGORI
JENIS PADI



0
Sangat Tahan

1
Tahan

3
Agak Tahan
-Padi Mas
5
Sedang

7
Agak Rentan

9
Sangat Rentan
-
Tabel 3. Pengelompokan Padi Berdasarkan Skoring ketahanan Terhadap Isolat Xoo-003 pada umur 2 minggu setelah inokulasi
SKOR
KATEGORI
JENIS PADI



0
Sangat Tahan
-
1
Tahan
-
3
Agak Tahan
-          Padi Mas
5
Sedang
-
7
Agak Rentan




9



Sangat Rentan

4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari praktikum kali ini dapat disimpuln bahwa :
1.      Dalam Clipping methode varietas padi Mas pada hari percobaa ke 7 rata rata menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 padi percobaan menunjukkan gejala sangat rentan dan ini tidak mungki untuk hidup normal dan akan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi nanti nya
Varietas padi Senapi pada hari ke 7 menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 menunjukka gejala sangat rentan dan ini sama hal nya dengan varietas padi mas yang sama sama tidak bisa di pertahankan.
2.      Dalam metode akar pada hari ke 7 tanaman padi Mas menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 tanaman menunjukkan gejala sangat rentan
Varieas padi Senapi pada hari ke 7 tanaman menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 tanaman menujukkan gejala sangat rentan

















DAFTAR PUSTAKA
Bradury, J.F. (1986). Xanthomonas. In: Guide to Plant Pathogenic Bacteria. CAB International Mycological Institute, Slough, England.
Dardick, C., da Silva, F. G., Shen, Y., and Ronald, P. (2003). Antagonistic Interactions Between Strains of
Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Phytopathology 93:705-711EPPO. (2007). Xanthomonas oryzae. Bulettin OEOBulettin 37, 543-553
Herlina L dan Silitonga, (2011). Seleksi Lapang Ketahanan Beberapa Varietas Padi terhadap Infeksi Hawar Daun Bakteri Strain IV dan VIII. Buletin Plasma Nutfah Vol.17 No.2
IRRI. (2003). Bacterial leaf blight. (Online). http://www.knowledgebank. irri.org/riceDoctor _MX/fact sheets/diseases/ Bacterial_leaf_blight.htm
Masniawati A, Satrianti A Syaiful, Hajrial Aswidinnoor. (2005). Karakterisasi Molekuler dan Analisis Statbilitas Sifat Aromatik Plasma Nutfa Padi Aromatik Sulawesi Selatan. Laporan Hibah Pekeri, Dikti, Depdiknas.
Kadir, T. S, I. Hanarida, D.W. Utami, S. Koerniati, A.D. Ambarwati, A. Apriana, dan A. Sisharmini. (2009). Evaluasi Ketahanan Populasi Haploid Ganda Silangan IR64 dan Oryzarufipogon Terhadap Hawar daun bakteri pada Stadia Bibit. 15 (1). Buletin Plasma Nutfah.
Ou S.H. (1985). Rice Disease 2nd. Commonwealth Mycological Institute. Kiew, Surrey, England. Semangun, H. (1993). Penyakit-penyakit penting tanaman pangan. Gadjah Mada University Press.
Schaad, N.W and Jones J.B. and Chun W. (2001). Laboratory Guide for Identification of Plant Pathogenic Bacteia. (3th Ed.). APPS Press. The American Phytopathological Society . St. Paul. Minnesota.
Suparyono, Sudir, dan Suprihanto. (2004). Pathotype profile of Xanthomoas campestris pv.oryzae,isolates from the rice ecosystem in Java. Indonesian Jurnal of agricultural Science, Vol. 5(2): 63-69.
Wahyudi, A.T., Meliah dan A.A. Nawangsih. (2011). Xanthomonas oryzae pv. oryzae Bakteri Penyebab Hawar Daun pada Padi: Isolasi, Karakterisasi, dan Telaah Mutagenesis dengan Transposon. Makara Sains 5 no 1;89-96.

 UJI KETAHANAN VARIETAS PADITERHADAP PENYAKIT HAWAR DAUN BAKTERI
1. PENDAHULUAN

Tanaman padi sawah (Oryza sativa L) merupakan salah satu komoditi tanaman pangan yang sangat penting di Indonesia dan salah satu bahan pangan nasional yang diupayakan ketersediaannya tercukupi sepanjang tahun, karena padi sebagai makanan pokok utama. Kebutuhan beras secara nasional terus meningkat sepanjang tahun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Namun pada realisasinya kebutuhan pangan Indonesia masih tergantung oleh negara lain, kecuali pada tahun 1984 yang mampu berswasembada beras.
Penyakit hawar dan bakteri atau Bacterial Leaf Blight (BLB) pertama kali ditemukan di Fukuoka Jepang pada tahun 1884 (EPPO, 2007). Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Bakteri Xanthomonas. Oryzae merupakan bakteri gram negatif, aerobic, berbentuk batang dengan ukuran (0,4-0,7 x 0.7 –1.8 um ) dengan flagel polar tunggal (Schaad, et al, 2001). Koloni pada media padat mengandung glukosa berbentuk bulat, cembung, berlendir dan berwarna kuning karena memproduksi pigmen xanthomonadin,karakteristik dari genus (Bradury, 1986).
Penyakit hawar daun bakteri (bacterial leaf blight = BLB) disebabkan olehbakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Penyakit ini di Indonesia tersebar hampirdiseluruh daerah pertanaman padi baik di dataran rendah maupun dataran tinggidan selalu timbul baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Pada musimhujan biasanya berkembang lebih baik. Penyakit hawar daun bakterimenyebabkan penurunan produksi padi yang cukup tinggi dan dalam keadaantertentu dapat menurunkan produksi sampai 60 %. Penyakit ini mempunyaibeberapa ras dari jenis bakteri dan masing-masing mempunyai perbedaankemampuan untuk menginfeksi tanaman padi (Sudarmo 1991).
Hawar daun bakteri dapat terjadi pada tingkat bibit, tanaman muda, dantanaman tua. Penyakit hawar daun bakteri mulai menyebabkan kerusakan padapertanaman padi di Indonesia pada musim hujan tahun 1948/1949. Pada waktu itupenyakit ini disebut sebagai kresek atau hama lodoh apabila tanaman sampai mati.Di daerah tropis, misalnya Indonesia kerusakan pertanaman padi lebih besardibandingkan daerah subtropis (Khaeruni 2001). Pada tingkat keparahan 20%sebulan sebelum panen, penyakit sudah mulai menurunkan hasil. Di ataskeparahan itu, hasil padi turun 4% tiap kali penyakit bertambah parah sebesar10%.Penyakit hawar daun bakteri menghasilkan dua gejala khas, yaitu kresek dan hawar. Kresek adalah gejala yang terjadi pada tanaman berumur kurang dari30 hari (pesemaian atau yang baru dipindah). Daun-daun berwarna hijau kelabu,melipat, dan menggulung. Dalam keadaan parah, seluruh daun menggulung, layu,dan mati, mirip tanaman yang terserang penggerek batang atau terkena air panas(lodoh). Sementara, hawar merupakan gejala yang paling umum dijumpai padapertanaman yang telah mencapai fase tumbuh anakan sampai fase pemasakan(Suyamto 2007). Penyakit ini akan menimbulkan gejala yang timbul 1-2 minggusetelah padi dipindah dari persemaian. Daun-daun yang sakit akan berwarna hijaukelabu, mengering, helaian daunnya melengkung, diikuti oleh melipatnya helaiandaun itu sepanjang ibu tulangnya. Pada umumnya gejala yang pertama tampak pada daun-daun yang dipotong ujungnya. Dekat bekas potongan terjadi bercak hijau kelabu, sering ibu tulang daun menjadi berwarna kuning.
Bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi di daerah beriklim tropis maupun subtropis (Ou,1985). Di Indonesia, Kehilangan hasil yang diakibatkan oleh penyakit hawar daun bakteri dapat mencapai 70-80%(Kadir, 1999), sedangkan di India mencapai 6-60 % dan di Jepang mencapai 20-50 % (IRRI, 2003).
Upaya yang dinilai efektif untuk mengendalikan penyakit HDB adalah melalui penanaman varietas tahan. Di Indonesia, pemuliaan varietas tahan melalui seleksi telah lama dilakukan dan telah berhasil diperoleh beberapa varietas yang memiliki ketahanan terhadap HDB (Herlina dan Silitonga, 2011)
Populasi bakteri hawar patogen Xanthomonas oryzae pv. oryzae pada pertanaman padi sangat beragam dan dinamis. Beberapa strain sering muncul di suatu wilayah tertentu dengan satu atau beberapa strain yang dominan. Struktur populasi. Xanthomonas oryzae pv. oryzae dapat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan seperti perbedaan musim dan adanya gen resisten terhadap penyakit dalam tanaman padi (Dardic, et al; 2003). Strain Xoo di Indonesia hingga kini telah ditemukan 12 strain dengan tingkat virulensi yang berbeda. Strain IV dan VIII diketahui mendominasi serangan HDB pada tanaman padi di Indonesia (Suprayono et al, 2004)
Padi aromatik merupakan salah jenis padi yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi karena disukai oleh konsumen. Padi aromatik banyak diminati karena selain memiliki rasa nasi yang enak dan pulen juga memiliki aroma wangi. Adanya tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan khususnya beras yang semakin meningkat baik dari kualitas maupun kuantitas merupakan peluang bagi pengembangan padi aromatik lokal, khususnya padi aromatik lokal Enrekang.
Varietas padimerupakan salah satu jenis padi aromatik yang memiliki aroma wangi yang tajam. Jenis Varietas padiadalah Pulu Mandoti, Pare Salle, Pare Pulu Lotong, Pare Pinjan, Pare Pallan, Pare Solo, Pare Mansur, Pare Kamida dan Pare Lambau. Hasil uji organoleptik terhadap sembilan varietas padi aromatik menunjukkan bahwa Varietas padiyaitu Pulu Mandoti dan Lambau mempunyai tingkat aromatik yang paling harum (Masniawati, dkk., 2005).



2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan mulai dari hari senin 17 November 2014, bertempat di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Jambi, Indonesia.
Benih padi vrietas sanapi dan varietas padi Mas yang telah berumur 21 hari di pindahkan ke ember yang telah diisi dengan media tanah dan pupuk kandang (2:1), satu rumpun per ember. Tanaman padi yang telah berumur 30 hari setelah tanam diinokulasi dengan bakteri Xoo. Inokulasi isolat Xoo dilakukan dengan cara Clip-method, yaitu ujung daun padi dipotong kira-kira 2-3cm dengan gunting yang sudah dicelupkan dalam suspensi Xoo. Dan metode suntikan akar, yaitu dengan menetesi akar dengan Suspensi Xoo. Pengamatan dilakukan terhadap 5 helai daun padi pada setiap rumpun yang telah diinokulasi dengan bakteri Xoo untuk mengetahui reaksi setiap jenis padi terhadap penyakit hawar daun bakteri.
Perkembangan penyakit diamati tiga kali yaitu 7 hari, 14 hari dan 21 hari setelah diinokulasi. Parameter yang diamati adalah luas area daun sakit (Disease Leaf Area).

3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanaman yang terinfeksi menunjukkan gejala bercak putih kekuningan yang diawali pada bekas guntingan pada ujung daun. Selanjutnya menyebar keseluruh permukaan daun sesuai dengan tingkat ketahanan tanaman padi terhadap bakteri Xoo yang diinfeksikan. Penyakit hawar daun bakteri merupakan penyakit yang menginfeksi secara sistemik dengan gejala berupa bercak berwarna abu-abu putih disepanjang tulang daun. Gejala ini tampak jelas pada stadia pembentukan anakan, dimana kejadian penyakit meningkat seiring dengan pertumbuhan tanaman dan memuncak pada stadia pembungaan. (Gnamickan et al, (1999).





 Tabel 1. Respon Tanaman Varietas padi terhadap Isolat Bakter Xoo-003
A.    Clipping methode
No
Jenis Padi
7hari setelah inokulasi
14 hari setelah inokulasi
Luas gejala pd daun(%)
Skor
Kategori
Luas gejala pd daun(%)
Skor
kategori
1

Padi Mas

47.36842
27.77778
17.24138
56.41026
32.43243
18.51852
7

7

5

9

7

5
Agak rentan

Agak rentan

Sedang

Sangat rentan

Agak rentan

Sedang


78.94737
72.22222
31.03448
84.61538
83.78378
48.14815
9

9

7

9

9

7

Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan



2
Padi  Senapi
62.5
45.45455
50
63.63636
54.54545
43.75
9

7

7

9

9

7


Sangat rentan

Agak rentan

Agak rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan

100
77.27273
62.5
100
86.36364
75
9

9

9

9

9

9
Sangat rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Sangat rentan


No
Jenis Padi
7 hari setelah inokulasi
14 hari setelah inokulasi
Panjang Daun
(cm)
Panjang gejala pd daun (cm)
Panjang Daun
(cm)
Panjang gejala pd daun (cm)
1

Padi Mas

1
40
40
35
19
13
4

33
26
7
2
44
41
38
16
10
6

35
29
9
senapi
1
28
19
21

13
8
11


24
17
15
2
22
26
19
13
13
3

17
22
15









B.     Metode Akar
No
Jenis Padi
7hari setelah inokulasi
14 hari setelah inokulasi
Luas gejala pd daun(%)
Skor
Kategori
Luas gejala pd daun(%)
Skor
kategori
1















2
Padi Mas















Padi  Senapi
47.36842
27.77778
17.24138
56.41026
32.43243
18.51852
62.5
45.45455
50
63.63636
54.54545
43.75
7

5



5

9



7

5

9

7
7


9

9

7
Agak rentan

Sedang


Sedang


Sangat rentan



Agak rentan

Sedang

Sangat rentan

Agak rentan
Agak rentan


Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan

78.94737
72.22222
31.03448
84.61538
83.78378
48.14815
100
77.27273
62.5
100
86.36364
75
9

9

7

9

9

7
9

9
9



9

9
9






Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan

Sangat rentan

Sangat rentan

Agak rentan
Sangat rentan

Sangat rentan
Sangat rentan



Sangat rentan

Sangat rentan
Sangat rentan






No
Jenis Padi
7 hari setelah inokulasi
14 hari setelah inokulasi
Panjang Daun
(cm)
Panjang gejala pd daun (cm)
Panjang Daun
(cm)
Panjang gejala pd daun (cm)
1

Padi Mas

1
38
36
29
18
10
5
38
36
29
30
26
9
2
39
37
27
22
12
5
39
37
27
33
31
13
senapi
1
24
22
16

15
10
8

24
22
16

24
17
10
2
22
22
16
14
12
7
22
22
16
22
19
12


Hasil pengamatan terhadap gejala serangan penyakit hawar daun bakteri pada tanaman padi setelah diinokulasi dengan isolate Bakteri Xoo-003 menunjukkan gejala yang bervariasi. Pada umur 7 hari setelah inokulasi, ada dua jenis padi, yaitu Padi Mas, dan Senapi, menunjukkan adanya perbedaan gejala yang mana tanaman padi mas menunjukkan kategori Agak rentan ,Agak rentan, Sedang ,Sangat rentan ,Agak rentan dan Sedang ini menunjukkan bahwa tnaman padi mas masih mampu bertahan dalam praktek uji coba tersebut begitu pula yang terjadi pada varietas padi Senapi yag menunjukkan kategori Sangat rentan ,Agak rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan ini membuktikan bahwa varietas padi Senapi ini masih sanggup bertahan dalam praktek uji coba ini (Tabel 1).
Dan pada hari ke 14 kedua jenis padi ini menunjukkan gejala sangat rentan terhadap Bakteri Xoo bahwa hanya 2 rumpun padi yang masuk dalam kategori agak rentan yang mana luas area 31.03448 dan 48.14815 (Tabel 1) ini menunjukkan bahwa masih ada sebagian dari jenis padi Mas yang bertahan dalam percobaan ini namun berbeda dengan varietas Senapi yag mana setiap rumpun tanaman perobaan masuk dalam kategori sangat rentan hal ini menunjukkan bahwa varietas padi Senapi tidak tahan dengan metode percobaan dengan perlakuan bakteri Xoo ini (Tabel 1).
Praktikum kali ini juga mengamati Metode Akar yang mana tiap varietas menunjukkan gejala yang sedikit berbeda seperti yang akan di uraikan sebagai berikut :
Pada hari ke 7 padi verietas Mas menujukkan kategori gejala Agak renta ,Sedang ,Sedang ,Sangat rentan ,Agak rentan ,Sedang yang mana gejala ini memberi arti bahwa padi varietas Mas tersebut masih bias bertahan dalam praktek percobaan dengan menggunakan bakteri Xoo namun berbeda hal nya pada hari e 14 padi varietas Mas ini memberikan gejala yang berbeda sebangai berikut : Sangat rentan, Sangat rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan yang mana ini berate bahwa padi varietas Mas ini tidak mampu bertahan hidup pada hari ke 14 karna gejala yang di timbulkan rata rata sangat rentan atau tidak mamapu bertahan dari bakteri Xoo tersebut
            Namun berbeda dengan varietas Senapi pada hari ke 7 menunjukkan gejala sebagai berikut : Sangat rentan, Agak rentan ,Agak rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Agak rentan hal ini menunjukka bahwa padi varietas Senai ini termasuk tidak tahan dalam percobaan denganmenggunakan bakteri Xoo dan pada hari ke 14 padi varietas padi Senapi memberikan kategori gejala sebagai berikut : Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan ,Sangat rentan yang mana gejala ini menunjukkan bahwa varietas ini tidak mamapu bertahan dengan bakteri Xoo tersebut karna gejala yang di timbulkan semua nya sangat rentan dan sangat tidak mungkin bertahan hidup kalaupun bertahan akan memberikan hasil produksi yang tidak maksimum.
Tabel 2. Pengelompokan Padi Berdasarkan Skoring ketahanan Terhadap Isolat Xoo-003 pada umur 1 minggu setelah inokulasi
SKOR
KATEGORI
JENIS PADI



0
Sangat Tahan

1
Tahan

3
Agak Tahan
-Padi Mas
5
Sedang

7
Agak Rentan

9
Sangat Rentan
-
Tabel 3. Pengelompokan Padi Berdasarkan Skoring ketahanan Terhadap Isolat Xoo-003 pada umur 2 minggu setelah inokulasi
SKOR
KATEGORI
JENIS PADI



0
Sangat Tahan
-
1
Tahan
-
3
Agak Tahan
-          Padi Mas
5
Sedang
-
7
Agak Rentan




9



Sangat Rentan

4. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari praktikum kali ini dapat disimpuln bahwa :
1.      Dalam Clipping methode varietas padi Mas pada hari percobaa ke 7 rata rata menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 padi percobaan menunjukkan gejala sangat rentan dan ini tidak mungki untuk hidup normal dan akan sangat berpengaruh terhadap hasil produksi nanti nya
Varietas padi Senapi pada hari ke 7 menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 menunjukka gejala sangat rentan dan ini sama hal nya dengan varietas padi mas yang sama sama tidak bisa di pertahankan.
2.      Dalam metode akar pada hari ke 7 tanaman padi Mas menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 tanaman menunjukkan gejala sangat rentan
Varieas padi Senapi pada hari ke 7 tanaman menunjukkan gejala agak rentan dan pada hari ke 14 tanaman menujukkan gejala sangat rentan

















DAFTAR PUSTAKA
Bradury, J.F. (1986). Xanthomonas. In: Guide to Plant Pathogenic Bacteria. CAB International Mycological Institute, Slough, England.
Dardick, C., da Silva, F. G., Shen, Y., and Ronald, P. (2003). Antagonistic Interactions Between Strains of
Xanthomonas oryzae pv. oryzae. Phytopathology 93:705-711EPPO. (2007). Xanthomonas oryzae. Bulettin OEOBulettin 37, 543-553
Herlina L dan Silitonga, (2011). Seleksi Lapang Ketahanan Beberapa Varietas Padi terhadap Infeksi Hawar Daun Bakteri Strain IV dan VIII. Buletin Plasma Nutfah Vol.17 No.2
IRRI. (2003). Bacterial leaf blight. (Online). http://www.knowledgebank. irri.org/riceDoctor _MX/fact sheets/diseases/ Bacterial_leaf_blight.htm
Masniawati A, Satrianti A Syaiful, Hajrial Aswidinnoor. (2005). Karakterisasi Molekuler dan Analisis Statbilitas Sifat Aromatik Plasma Nutfa Padi Aromatik Sulawesi Selatan. Laporan Hibah Pekeri, Dikti, Depdiknas.
Kadir, T. S, I. Hanarida, D.W. Utami, S. Koerniati, A.D. Ambarwati, A. Apriana, dan A. Sisharmini. (2009). Evaluasi Ketahanan Populasi Haploid Ganda Silangan IR64 dan Oryzarufipogon Terhadap Hawar daun bakteri pada Stadia Bibit. 15 (1). Buletin Plasma Nutfah.
Ou S.H. (1985). Rice Disease 2nd. Commonwealth Mycological Institute. Kiew, Surrey, England. Semangun, H. (1993). Penyakit-penyakit penting tanaman pangan. Gadjah Mada University Press.
Schaad, N.W and Jones J.B. and Chun W. (2001). Laboratory Guide for Identification of Plant Pathogenic Bacteia. (3th Ed.). APPS Press. The American Phytopathological Society . St. Paul. Minnesota.
Suparyono, Sudir, dan Suprihanto. (2004). Pathotype profile of Xanthomoas campestris pv.oryzae,isolates from the rice ecosystem in Java. Indonesian Jurnal of agricultural Science, Vol. 5(2): 63-69.
Wahyudi, A.T., Meliah dan A.A. Nawangsih. (2011). Xanthomonas oryzae pv. oryzae Bakteri Penyebab Hawar Daun pada Padi: Isolasi, Karakterisasi, dan Telaah Mutagenesis dengan Transposon. Makara Sains 5 no 1;89-96.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

EKTRASI DNA

LAPORAN PRAKTIKUM GENETIKA OLEH ARIF GUNAWAN D1A012006 LABORATORIUM PEMULIAN TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS JAMBI JANUARI 2015 EKTRASI DNA Tujuan             Mahasiswa dapat melakukan ekstraksi DNA beberapa jenis tanaman Prinsip Teori             Isolasi DNA adalah proses pengeluaran DNA dari tempatnya berada (ekstraksi atau lisis) biasanya dilakukan dengan homogenasi dan penambahan buffer ekstraksi atau buffer lisis untuk mencegah DNA rusak (Yuwono, 2008).            Pada sel eukariotik termasuk tanaman dan hewan bagian terbesar dari DNA berada pada nukleus yaitu organel yang dipisahkan dari sitoplasma dengan membran. Nukleus terdiri dari 90 % keseluruhan DNA seluler. Sisa DNA adalah organel lain seperti mitokondria dan kloroplas. Karena DNA terdapat pada nukleus, maka perlu adanya...

Giberelin

NAMA             : ARIF GUNAWAN NIM                 : D1A012006 FAKULTAS    : PERTANIAN/AGROTEKNOLOGI  ZAT PENGATUR TUMBUH GIBERELIN 1. Pengertian Giberelin: Giberelin  adalah zat tumbuh yang sifatnya sama atau menyerupai hormon auksin, tetapi fungsi giberelin sedikit berbeda dengan auksin. Fungsi giberelin adalah membantu pembentukan tunas/ embrio, Jika embrio terkena air, embrio menjadi aktif dan melepaskan hormon giberelin (GA). Hormon ini memacu aleuron untuk membuat (mensintesis) dan mengeluarkan enzim. Enzim yang dikeluarkan antara lain: enzim α-amilase, maltase, dan enzim pemecah protein Enzim tersebut berperan memecah senyawa amilum yang terdapat pada endosperm (cadangan makanan) menjadi senyawa glukosa. Glukosa merupakan sumber energy pertumbuhan. Apabila giberelin diberikan pada tumbuhan kerdi...
BAB I PENDAHULUAN 1.1.Tujuan 1.     Mengenal alat-alat klimatologi (pengukur cuaca khsusnya dalam bidang meteorologi pertanian) 2.     Mempelajari prinsip kerja , cara penggunaan alat , serta bermacam-macam data dan kualitas data yang dihasilkan dari alat pengukur anasir alat 1.2.Prinsip Teori Meteorologi adalah ilmu yang mempelajari atmosfer bumi khususnya untuk keperluan prakiraan cuaca. Kata ini berasal dari bahasa Yunani meteoros atau ruang atas (atmosfer), dan logos atau ilmu. Meteorologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari dan membahas gejala perubahan cuaca yang berlangsung di atmosfer. Stasiun Meteorologi alat merupakan suatu tempat, dimana didalamnya mengadakan pengamatan yang continue terhadap keadaan lingkingan, baik itu berhubungan dengan iklim maupu dengan cuaca. Suatu stasiun meteorologi biasanya mengadakan pengamatan kondisi iklim selama sepuluh tahun berturut-turut, segingga akan diperoleh gambaran umum tentang rerat...